50 Pesan bijak mutiara hikmah Luqmanul Hakim

Nasehat bijak Luqmanul Hakim kepada anaknya dalam Al-Qur'an - Luqmanul Hakim adalah seseorang yang dikisahkan dalam Al Qur'an dengan nasehat-nasehat bijaknya kepada anaknya. Konon, Lukmanul Hakim diberkahi umur yang panjang yakni seribu tahun oleh Allah SWT. Beliau hidup semasa dengan Nabi Dawud as. Sebelum Dawud as diangkat oleh Allah sebagai Nabi, Lukmanul Hakim adalah pemberi fatwa kepada umat manusia. Namun setelah Dawud as diutus sebagai nabi, Luqmanul Hakim tidak lagi memberikan fatwa, karena baginya sudah cukup dengan diutusnya Nabi Dawud as.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Luqmanul Hakim adalah hamba sahaya dari negeri Habsyi. Namun banyak tokoh berpendapat lain, ada yang mengatakan Beliau adalah seorang tukang jahit, tukang kayu, penggembala dan lain-lain.

Baca juga: 30 Keutamaan serta khasiat doa Nurbuat

Mutiara Hikmah Luqmanul Hakim


Diantara pesan-pesan bijak mutiara hikmah Luqmanul Hakim kepada anaknya adalah sebagai berikut.

mutiara hikmah Luqmanul Hakim

1. Wahai anakku, juallah duniamu demi kehidupan akhiratmu, niscaya engkau akan memperoleh keduanya dengan beruntung.

2. Wahai anakku, janganlah mencampuri urusan dunia terlalu dalam sehingga membuat rusak urusan akhiratmu, tetapi janganlah meninggalkannya sama sekali, sehingga engkau menjadi beban orang lain.

3. Wahai anakku, sebagaimana engkau tidur, demikian pula engkau mati dan sebagaimana engkau bangun, demikianlah engkau dibangkitkan kelak. Beramallah dengan amal shalih niscaya engkau akan tidur dan bangun seperti pengantin baru.

4. Wahau anakku, apabila terdapat lima hal pada diri seseorang: agama, harta, sifat malu, baik budi dan dermawan, maka ia adalah seorang yang bersih lagi bertakwa, menjadi kekasih Allah dan lepas dari gangguan setan.

5. Wahai anakku, aku menasehati engkau dengan sifat-sifat yang apabila engkau berpegang teguh padanya niscaya engkau akan selalu menjadi orang terhormat, yaitu bentangkanlah sifat bijakmu kepada orang yang dekat ataupun jauh darimu, jangan perlihatkan kebodohanmu terhadap orang yang jujur maupun orang yang culas dan khianat, bersilaturahmilah kepada kaum kerabatmu. Peliharalah teman-temanmu jangan sampai menerima orang yang akan berbuat jahat yang menginginkan kerusakanmu dan jadikan teman-temanmu tergolong orang-orang yang apabila engkau berpisah dengan mereka, engkau tidak mengemukakan cacat mereka dan mereka tidak mengungkapkan cacatmu.

6. Wahai anakku, jadikanlah dan manfaatkanlah pikiran orang lain untukmu dalam menghadapi masalah dan dalam melakukan sesuatu. Yaitu dengan cara bermusyawarahlah dengan orang lain dalam urusan yang ingin kamu kerjakan.

7. Wahai anakku, menjadi orang bisu tetapi berakal itu lebih baik daripada engkau menjadi orang yang banyak bicara tetapi bodoh. Tiap-tiap sesuatu itu ada petunjuknya. Akal petunjuknya ialah berpikir dan petunjuk berpikir itu adalah diam. Barangsiapa berkata dalam hal yang tidak baik maka ia benar-benar sia-sia, barangsiapa berpikir tanpa mengambil pelajaran maka ia benar-benar kalai dan barang siapa diam tanpa berpikir maka ia benar-benar merugi.

8. Wahai anakku, sekiranya engkau membaca lembaran amalmu niscaya engkau cepat-cepat menutup lembaran amalmu itu.

9. Wahai anakku, kerjakanlah pekerjaan yang membuatmu shaleh dalam urusan agama dan duniamu, dan teruslah bekerja demi kepentinganmu itu hingga selesai. Janganlah engkau hiraukan orang lain, janganlah engkau dengarkan tanggapan mereka dan maafkanlah mereka, sebab memang tidak ada jalan untuk memuaskan dan menjinakkan mereka semua.

10. Wahai anakku, janganlah ayam itu menjadi lebih arif dari padamu, ia bangun dengan berkokok diwaktu sahur, sedangkan engkau masih tidur nyenyak.

11. Apabila engkau bermaksud menjadikan seseorang menjadi saudara maka buatlah ia marah. Apabila dia berlaku adil kepadamu ketika marah maka jadikan dia saudara, kalau tidak maka jauhilah dia.

12. Wahai anakku, janganlah engkau mengutus seseorang yang bodoh, apabila tidak menemukan orang yang bijaksana, maka jadikanlah engkau sendiri sebagai utusan untuk dirimu sendiri.

13. Wahai anakku, barangsiapa berpendapat bahwa kejelekan itu dapat memadamkan kejelekan, kalau itu benar maka nyalakanlah dua api, kemudian lihatlah apakah api yang satu dapat memadamkan api yang lain. Yang benar adalah kebaikan itulah yang dapat memadamkan kejelekan, seperti air dapat memadamkan api.

14. Wahai anakku, janganlah engkau makan ketika engkau masih kenyang, memberikaanya untuk anj*ng niscaya lebih baik bagimu daripada engkau memakannya.

15. Wahai anakku, aku telah mengangkat batu dan memikul besi namun aku tidak melihat sesuatu yang lebih berat daripada hutang. Aku telah memakan makanan yang baik-baik dan memeluk gadis yang cantik-cantik namun aku tidak melihat sesuatu yang paling enak rasanya kecuali kesehatan. Dan aku telah merasakan semua yang pahit-pahit namun aku tidak melihat sesuatu yang lebih pahit daripada kebutuhan terhadap orang lain.

16. Wahai anakku, apabila engkau hendak memutuskan sesuatu perkara, janganlah engkau putuskan terlebih dahulu sebelum engkau musyawarahkan dengan orang yang berpengalaman. Sebab ia akan memberikan pendapatnya yang harganya tak ternilai, sedangkan engkau dapat mengambilnya dengan cuma-cuma.

17. Wahai anakku, temanilah ulama dan ahli ilmu, dekatilah mereka sebab Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah seperti menghidupkan tanah dengan air hujan.

18. Wahai anakku, janganlah engkau dekati raja itu ketika ia marah sebagaimana engkau dekati lautan ketika ia sedang pasang.

19. Wahai anakku, janganlah engkau meminjam dari orang fakir yang merasa kaya.

20. Wahai anakku, wajib bagi setiap manusia pandai-pandai bergaul dengan tiga orang, yaitu raja yang zhalim, orang yang sakit, dan perempuan.

21. Wahai anakku, janganlah kamu berbicara dengan orang yang tidak mau mendengarnya, sebab memindah batu besar dari puncak gunung itu lebih mudah dari pada berbicara dengan orang yang tidak mau mendengarkannya.

22. Wahai anakku, sesungguhnya nasehat itu dirasakan berat oleh orang yang tol*l, seperti mendaki jalan tanjakan bagi orang yang tua bangka.

23. Wahai anakku, kasihanilah orang-orang fakir karena tidak banyak bersabar, kasihanilah orang-orang yang kaya karena tidak banyak bersyukur dan kasihanilah semua orang karena mereka sering lalai.

24. Wahai anakku, cukuplah dengan sifat qana'ah itu sebagai kemuliaan dan dengan jiwa yang bersih itu sebagai kenikmatan.

25. Wahai anakku, jadikanlah cita-citamu itu sesuai dengan bakatmu dan janganlah engkau jadikan cita-citamu itu sesuai dengan apa yang membuat kamu cukup (padahal bertentangan dengan bakatmu)

26. Wahai anakku, tidaklah berakal orang yang tidak mempunyai kesucian, tidak berperikemanusiaan orang yang tidak berkata benar, tidak dapat dipercaya orang yang tidak dapat menyimpan rahasianya, tidak berilmu orang yang tidak mempunyai belas kasih, tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat dari pada ilmu pengetahuan dan tidak ada harta benda yang lebih menguntungkan dari pada hikmah-hikmah.

27. Wahai anakku, barangsiapa yang mau melihat cacat dirinya sendiri niscaya ia akan terhindar dari melihat cacat orang lain, barang siapa menyembunyikan kesalahannya sendiri niscaya ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain.

28. Wahai anakku, malapetaka menurut agama ada lima macam:

  1. Raja yang merugikan rakyatnya.
  2. Lelaki yang dirugikan oleh istrinya.
  3. Banyaknya anggota keluarga tapi sedikit kekayaannya.
  4. Teman yang baik dihadapanmu dan merongrong dibelakangmu.
  5. tetangga yang menyembunyikan kebaikan-kebaikanmu dan menyebarluaskan kejelekan-kejelekanmu.


29. Wahai anakku, barangsiapa berbuat jelek padamu maka berbuat baiklah engkau kepadanya.

30. Wahai anakku, tanamlah pohon yang baik niscaya engkau akan memetik buah yang melimpah.

31. Wahai anakku, manusia itu dibagi menjadi tiga. Sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya sendiri dan sepertiga untuk ulat. Adapun untuk Allah adalah jiwanya, untuk dirinya sendiri adalah ilmunya dan yang untuk ulat adalah tubuhnya.

32. Wahai anakku, apabila perut terlalu kenyang dengan makanan niscaya matilah pikiran, bisulah hikmah dan malaslah anggota badan untuk melakukan ibadah.

33. Wahai anakku, barangsiapa berteman dengan orang yang jahat niscaya ia tidak akan terhindar dari kejahatannya.

34. Wahai anakku, barangsiapa yang tidak menguasai mulutnya niscaya ia akan menyesal.

35. Wahai anakku, jadilah engkau orang yang dapat dipercaya niscaya engkau menjadi kaya dan janganlah engkau menjadi orang yang khianat sebab engkau akan menjadi orang yang fakir.

36. Wahai anakku, sempurnanya kebajikan itu adalah menyegerakannya.

37. Wahai anakku, tiga hal yang membuat engkau dewasa: bermusyawarah dengan ahli nasihat, bertindak hati-hati terhadap orang yang dengki, dan mengakrabkan diri kepada setiap orang.

38. Wahai anakku, tertipulah orang yang mempercayai tiga hal: 1). Orang yang menjadi saksi terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui. 2). Orang yang percaya terhadap orang yang tidak bisa dipercaya. 3). Orang yang rakus terhadap sesuatu yang ingin diraih namun tanpa usaha.

39. Wahai anakku, hindarilah sifat dengki, sebab dengki itu merusak agama, melemahkan jiwa dan pasti akan berakhir dengan penyesalan.

40. Wahai anakku, apabila engkau bekerja pada seorang majikan, maka janganlah engkau mempergunjingkan ia kepada orang lain, sebab itu hanya akan membuat dia menjauhi engkau.

41. Wahai anakku, menyimpan rahasia itu berarti memelihara kehormatan.

42. Wahai anakku, apabila engkau ingin memiliki hikmah maka janganlah sampai dirimu dikuasai oleh wanita, sebab wanita itu merupakan suatu peperangan yang tidak mengenal perdamaian.

43. Wahai anakku, dunia ini ibarat sebuah lautan yang dalam, telah banyak orang yang hanyut didalamnya, maka jadikanlah iman sebagai kapalmu, taqwa sebagai isinya dan tawakal sebagai layarnya.

44. Wahai anakku, pilihlah pertemuan-pertemuan yang baik, apabila engkau melihat mereka yang dalam pertemuan menyebut asma Allah maka duduklah engkau bersama mereka. Sebab apabila engkau ahli ilmu niscaya ilmumu akan bermanfaat, apabila engkau orang bodoh niscaya mereka akan mengajarimu, dan apabila Allah menganugerahkan rahmat kepada mereka niscaya engkau akan mendapatkannya bersama mereka.

45. Wahai anakku, janganlah engkau belajar apa yang belum engkau ketahui sebelum engkau mengamalkan apa yang telah engkau ketahui.

46. Wahai anakku, biasakanlah mulutmu mengucapkan Allaahummaghfirlii, sebab Allah mempunyai waktu-waktu dimana doa seseorang tidak ditolak pada waktu tersebut.

47. Wahai anakku, hindarilah dirimu dari hutang, sebab hutang itu membuat seseorang hina disiang hari dan susah dimalam hari.

48. Wahai anakku, berhati-hatilah dengan perkataan yang keluar dari mulut sebab apabila engkau diam pasti selamat dan sebaiknya engkau berkata dengan perkataan yang bermanfaat.

49. Wahai anakku, hindarilah keburukan sebagaimana keburukan itu menghindari kamu, sebab keburukan itu bagi keburukan lainnya saling beranak pinak.

50. Wahai anakku, sesungguhnya hikmah itu menempatkan orang-orang miskin di tempatnya para raja.

Demikian beberapa pesan bijak mutiara hikmah Luqmanul Hakim, yang tentu saja masih banyak lagi mutiara hikmah Luqmanul Hakim lainnya yang diriwayatkan di berbagai kitab. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan untuk kita sebagai pedoman hidup. Apabila artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan. Terimakasih

Iklan Tengah Artikel 1